Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Rapat Kerja Pansus Ranperda Rencana Pembangunan Industri DPRD Kabupaten Badung

Peserta rapat pansus Ranperda  tentang Rencana Pembangunan Industri Kabupaten Badung Tahun 2023-2043 usai rapat. (Foto/dok.hms)

Badung, PorosBali.com- DPRD Badung melalui Pansus Ranperda  tentang Rencana Pembangunan Industri Kabupaten Badung Tahun 2023-2043 mengadakan rapat kerja dengan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkab Badung.

Raker yang digelar di Ruang Gosana Sekretariat DPRD Badung, Senin (6/2/2023) itu dipimpin oleh Ni Luh Putu Gede Rara Hita Sukma Dewi, didampingi anggota Dewan lainnya yakni, I Nyoman Dirga Yusa, dan I Wayan Edy Sanjaya. Sementara pimpinan OPD yang hadir diantaranya Kepala Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja I Putu Eka Merthawan, Dinas PUPR, Kabag Hukum Setda Kabupaten Badung, para tim ahli dan undangan terkait.

Putu Eka Merthawan menyampaikan, seiring dengan perbaikan stuasi pariwista, jika nantinya terjadi permasalahan krusial yang tidak diinginkan seperti pandemi, Dinas Perindustrian mempersiapkan IKM atau industri sebagai tulang punggung untuk mem-back up rakyat Badung. Menurutnya, peraturan daerah tentang pembangunan industri di Kabupaten Badung sangatlah krusial untuk menjadikan industri khususnya IKM sebagai garda depan jika nantinya terjadi permasalahan seperti pandemi kemarin. “Kita tidak mau bergantung hanya di pariwisata,” ujarnya.

Baca juga: Susun Kepengurusan, Tim Formatur FORKI Badung 2023-2027 Temui Ketua DPRD Putu Parwata

Sementara I Nyoman Dirga Yusa mengungkapkan, dirinya sangat tertarik untuk membuat sebuah desa ternak di salah satu desa di Kabupaten Badung. Untuk mendukung hal tersebut sudah tentu dibutuhkan fasilitas pendukung baik itu berupa rumah potomg hewan (RPH). Sebagai contoh dibangunnya RPH untuk babi karena seperti diketahui banyak msayarakat Badung yang memiliki peternakan babi agar industri olahan daging babi dilakukan secara terintegrasi.

“Janganlah kita latah membangun desa wisata di sebuah desa, sementara di desa tersebut tidak tersedia objek wisata sebagai pendukungnya. Pariwisata memang identik dengan tempat wisata yang dikunjungi, akan tetapi pariwisata tidak lepas juga dengan kuliner. Ada baiknya kita kembangkan desa yang memiliki potensi sebagai desa ternak menjadi pusat kuliner sebagai pendukung pariwisata di Kabupaten Badung ini,” tandasnya. (Pbm2)


TAGS :

Komentar